Nike+ , fenomena digital campaign yang sangat sukses

Untuk para hipster (dan real) jogger, tentunya mengenal aplikasi Nike+. Itu lho, aplikasi yang menggabungkan antara olah raga dan (mungkin) insight narsis di social media.

Menurut saya, campaign digital yang sukses (setidaknya untuk branding) ya aplikasi ini. Kemanapun anda berlari, memakai merk gear apapun, di event lari yang disponsori siapapun, brand Nike selalu terbawa.

Sekilas statistic aplikasinya (diambil dari appannie.com);

Rank Nike+ di iOS Appstore Indonesia

Rank Nike+ di iOS Appstore Indonesia

History rank Nike+ di google play Indonesia

History rank Nike+ di google play Indonesia

 

Aplikasi ini selalu menduduki peringkat ke 2 untuk masa yang cukup panjang di kategori health & fitness. Pada dasarnya, aplikasi ini diawali dengan tracking rute lari, menghitung kecepatan lari, dan bisa mendapatkan semangat jika ada yang melakukan like di fb atau comments atau emoticon di path. Kemudian aplikasi ini berkembang menjadi social networking para hipster pelari dan beberapa gamification berdasarkan aktifitas lari-nya (challenge, scoring board, dll).

Beberapa hal yang menarik, Nike memang selalu selangkah lebih maju dalam packaging technology menjadi sesuatu yang ‘cool’. Tidak berhenti sampai ‘hanya’ di aplikasi, tapi jika diperhatikan, Nike juga membuat satuan baru yang namanya NIKEFUEL ini seperti satuan ‘pembakaran kalori’ yang cara penghitunganya dirahasiakan. Tidak berhenti sampai di pengenalan satuan baru, Nike bahkan me-rilis hardware sendiri berupa ‘gelang kesehatan’ NIKE FUEL Band.

Beberapa hal yang bisa dipelajari dan mungkin menjadi kunci sukses bagi digital campaign lain yang berniat memakai aplikasi sebagai sarananya;

Perencanaan yang Matang

Dapat dipastikan, rentetan produk yang dikeluarkan bukan didasari oleh pemikiran perencanaan yang matang. Bahkan, walau dengan sangat berani NIKE memutuskan untuk membuat aplikasi ini bisa dipakai siapa saja. Baik orang yang tahu memakai NIKE ataupun tidak. Sudah pasti, NIKE tidak ada niatan untuk membuat rentetan produk digital untuk branding semata. Karena secara mereka sudah cukup solid di area tersebut.

Fokus NIKE di aplikasi ini lebih kepada engagement dengan para pemakainya. Sepertinya ada rencana yang jauh lebih besar di masa yang akan datang untuk apa yang ingin dicapai.

Mari kita menebak-nebak kemana arahnya……

Menemukan kembali industri Sport Fashion melalui Teknologi

Sebagai brand sport, tidak perlu dipertanyakan lagi kehebatan Nike. Sepatu, accessories, baju, dan merchandise sports clubs mungkin adalah sports industry 1.0 bagi NIKE dan sudah khatam. Melalui aplikasinya, NIKE seolah memberikan nafas baru kepada industri sport dengan membuat line-up produk tambahan yang tidak hanya cool untuk digunakan, tapi juga sangat relevan bagi target market. Bahkan, secara tidak langsung sekaligus melakukan edukasi mengenai satuan barunya NIKEFUEL.

NIKEFUEL sendiri, sebenarnya adalah penggambaran yang dibuat NIKE untuk menghitung berapa banyak kalori yang terbuang. Mengapa tidak memakai satuan kalori saja seperti yang dipakai oleh accesories pengukur sport lainnya?

MUNGKIN, produk berikut setelah sports gadgets NIKE akan masuk ke dunia makanan sehat. Jadi, nanti semua makanan yang bekerjasama dengan NIKE atau dibuat oleh NIKE memakai satuan NIKEFUEL. (SOOO?? sekarang di tiap makanan juga ada tulisan kalorinya gituuuuuuuuuh)

NAAAAH ini yang menarik… mungkin aplikasi pada release berikutnya, bisa dimasukkan kode dari makanan yang kita konsumsi sehingga aplikasi NIKE FUEL (yang diturunkan melalui berbagai macam aplikasi sport lainnya salah satunya NIKE+) mengetahui apakah pada hari itu kita surplus, seimbang, atau kekurangan ¬†FUEL. Seperti hal-nya mobil dan indikator bensin-nya, nanti NIKE akan membuat indikator bahan bakar untuk manusia.

Bayangkan industri¬†per-diet-an …. berapa banyak orang ingin hidupnya selalu seimbang sehingga gak overweight? itulah targetnya…. NIKE menjangkau mereka bukan dengan¬†menyuruh mereka membeli sepatu dan baju nike kemudian berolah raga, tapi dari angle yang saat ini masih sangat abstrak bagi kebanyakan orang; konversi kalori ke aktifitas supaya tetap menjaga berat badan….

Tujuan jangka pendek mereka saat ini mungkin sudah tercapai; me-nike+ -kan pelari. Setelah penjabaran diatas terjadi; tanpa disadari, NIKE menjadi standar hidup sehat…….. UUD (ujung2nya duit) #ihik

PS: id saya di nike+ hiro whardana… search ya…. #ihik

@hwhardana

 

Pemberdayaan Konsumen di Era Digital

Sejalan dengan perkembangan jaman, semakin jelas terasa era digital mulai masuk ke semua aspek kehidupan. Saat ini, siapa sih yang gak membicarakan digital? Dunia media jelas terasa perubahannya. Industri periklanan mulai mencari posisi menghadapi era digital. OMBK (Orang Muda Baru Kaya) bermunculan karena pesatnya perkembangan digital. Terus, apa artinya bagi konsumen? 

“Digitalisasi” – entah ada gak kosakata ini – mulai merambah perilaku konsumen, dalam hal ini saya coba mengulas tentang dunia yang saya kuasai; dunia kemunikasi selular.

Era digital jelas merubah positioning, SEMUA operator selular di Indonesia. Perubahan dari ¬†“telp dan sms termurah” menjadi “internet cepat termurah”. Dampak dari perubahan ini, mengubah pola komunikasi antara operator selular dengan konsumen. Peralihan dari ¬†asumsi semua komunikasi ke konsumen bisa dilakukan melalui SMS dan USSD (ini jenis komunikasi yang kalau orang teken *1234# terus muncul sesuatu) ke mobile internet melalui portal operator maupun aplikasi seperti yang dilakukan 3 dengan BimaTRI-nya. *tips:coba search berita bimatri di google, ada nama saya lho….. #ihik*

Lebih dari pola komunikasi interaksi antara konsumen dan operator-nya, bahkan tanda-tanda perubahan¬†value-chain dari core bisnis distribusi juga mulai terasa. Apalagi dibidang pembelian pulsa (produk unik; “angin” yang dibayar dan didistribusikan selama ini melalui channel fisik). Memang e-topup atau server-pulsa (kl kurang jelas apa itu server-pulsa, silakan comment nanti saya jawab #ihik) ¬†telah mendominasi bisnis pulsa; namun sebelum era digital di masyarakat yang lebih luas, “digitalisasi” distribusi pulsa hanya berhenti sampai level retailer, dimana sesungguhnya¬†value-chain dari bisnis tidak berubah drastis dari distribusi konvensional (operator – distributor – wholeseller – retailer).

Smartphone dan Internet yang semakin besar jumlah pemakainya akan merubah itu semua, utamanya kepada para penjual udara-berbayar (pulsa). 

Salah satu contoh yang sudah terjadi; aplikasi SelaluAda (saya mencoba versi android). Aplikasi tersebut jelas sekali akan merubah struktur¬†value-chain¬†dan perilaku konsumen. Begitu mudah-nya orang membeli pulsa mulai dari pulsa telp semua operator selular, konten digital, sampai membeli ‘pulsa’ PLN prabayar (seperti yang ditulis oleh teman2 di @aplikanologi¬†http://www.aplikanologi.com/top-apps/selaluada-memang-selalu-ada-pas-dibutuhin/ ).¬†

Mari berandai2……

Bayangkan keadaan dimana penetrasi Android semakin meluas -konon prosentasi kenaikan penetrasinya lebih dari 2 digit tahun ke tahun-, belum lagi ditambah dengan “gerakan promo mobile internet” di semua operator selular. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi utamanya di kalangan kelas menengah; para kaum berduit, punya buying power, pasti punya rekening bank karena kerja di suatu perusahaan, ¬†tapi tetap cari yang paling ekonomis.

Perubahan value-chain dari konvensional menjadi digital dimana fungsi dari wholeseller maupun retailer bisa hilang dalam bisnis pulsa. Karena dari distributor bisa langsung menjangkau konsumen melalui aplikasi. 

Terus pengaruhnya bagi konsumen apa? Semakin sedikit rantai yang terlibat dalam distribusi pulsa, bukan tidak mungkin margin yang tadinya dibagi ke channel distribusi para distributor besar bisa di berikan kepada konsumen dalam bentuk yang berbeda.

Aplikasi SelaluAda sudah melakukannya untuk beberapa produk. Misalnya untuk isi pulsa data operator 3 5GB, dihargai Rp. 125rb namun pengguna mendapat point senilai 25000. 

photo-2

Poin tersebut bisa ditukar di situs poin.selaluada.com . Menurut list harga barang (yang semuanya berupa poin), 25000 poin bisa ditukarkan dengan voucher PLN senilai Rp. 25rb. Seru juga! beli pulsa telp, dapat pulsa PLN… #ihik

Bagaimana ini bisa dilakukan? sudah sangat jelas karena adanya pemotongan jalur distribusi sehingga value discount ke distributor bisa diberikan kepada konsumen. 

Ini baru namanya pemberdayaan konsumen, penggunaan teknologi tepat guna dan bermanfaat! 

Oh iya, siapa tahu mau coba aplikasinya bisa didownload di https://play.google.com/store/apps/details?id=com.selaluada.pulsa

SUMPAH PEMUDA…

Hari ini 28 Oktober; peringatan Sumpah Pemuda.

Seperti hal-nya semua peringatan hari bersejarah, pastinya anak sekolah yang paling merasakan. Sayangnya, dari saya SD sampai sekarang peringatan hari bersejarah cenderung tanpa makna dan sekedar ‘lucu2-an’.

Pasti diperingati dengan memakai baju daerah dan kontes yang kadang semakin sedikit relevansi-nya dengan hari bersejarah itu.

Harusnya dibuat lomba yang tingkat relevansinya lebih dari sekedar kesamaan tema, tapi juga mengandung unsur pendidikan dan penanaman nilai-nilai dari hikmah hari bersejarah. Misalnya; berbahasa satu bahasa Indonesia…

Saya salah satu orang yang setuju kalau di sekolah kurikulum internasional sekalipun, diwajibkan memakai Bahasa Indonesia. Ini mungkin hal yang terlihat sepele (dan ketinggalan jaman), tapi mempunyai makna yang mendalam. Setelah dipelajari; keputusan memakai Bahasa yang sama yaitu Bahasa Indonesia membuat kesederhanaan di berbagai bidang. Contohnya saja, teknologi.

Coba saja kalau pemimpin bangsa ini tidak ‘memaksa’ bahwa Indonesia harus satu bahasa, betapa pusingnya para developer, content-writer, digital agency, ad-agency, dan semua industri kreatif lain.

Saya ambil contoh India.. setiap provinsi di India mempunya dialek yang berbeda, bahkan makna kata-pun berbeda. Bisa dibayangkan, sebagai developer ataupun content-writer membuat aplikasi. Berapa banyak konversi bahasa yang harus dilakukan dan pastinya berapa banyak investasi yang harus dikeluarkan demi mengakomodasi beberapa dialek bahasa.

Mari mulai sekarang, kita lebih menghargai Bahasa Indonesia lebih dari sekedar janji dalam wacana Sumpah Pemuda…

you had me at “hello world”

Kalau ada yang mengerti mengapa hello world ada dalam tanda kutip, berarti pernah belajar bahasa pemrograman ūüôā Yupe, menampilkan tulisan “hello world” adalah sample yang pasti digunakan di chapter pertama belajar coding.

Waktu kecil, gak pernah gue kepikiran akan jadi orang yang bakal akrab dengan teknologi; apalagi cari makan di bidang ini. Cita-cita saya dulu kalo gak jadi insinyur ya artis #eaaah artis… :p

Setelah masuk Fasilkom UI yang semi kecelakaan di tahun ’97. Kenapa kecelakaan? Intinya waktu sma saya tidak mau masuk ke jurusan yang ada ¬†biologi sama kimia -nya, syarat kedua adalah jurusannya keren di universitas itu #ihik (narsis akut dari dulu). Ternyata, dunia dihital menyenangkan! kenapa menyenangkan? ¬†Karena dunia dihital (sampai sekarang) menjadi sesuatu yang sexy sekaligus super kejam.

Sexy karena sangat memaksimalkan hasrat ke-narsis-an! mulai dari jadi tempat bertanya, dipersepsikan jadi orang yang ‘tahu duluan’, jadi bisnis milyaran dengan modal seadanya, sampai bisa jadi bahan #Modus #ihik.

Kejam karena bisnis di dihital benar-benar ‘make or break’. if you make you will be a billionaire, if you dont you have nothing but useless digital asset. Beda sama buka toko di ambasador; kalo barang jualan gak laku, at least masih ada toko yang bisa dijual jadi duit. Kalo bikin bisnis dihital; misalnya portal dotcom, gagal, yaudah.. bye bye modal… ūüôā

mungkin itu kenapa sample coding selalu “hello world”.. karena produk di dihital selalu berawal dari hello, bisa turun jadi sukses atau bye world #ihik

one way or another, buat gue, dunia dihital itu selalu “hello world” #random.

Hai, blog!!

posting terakhir di blog ini tahun 2012… draft demi draft sudah dikumpulkan tapi gak ada yang diselesaikan *kebiasaan menunda nulis akut*

Saya ini orang yang kepo dan suka komentar, jadi tanpa berpikir panjang.. mulai saat ini saya akan nulis (lagi)…

Jangan lupa ya… ingetin kalo saya harus nulis setiap hari… twitter saya @hwhardana mention aja kalo belum ada post di blog saya setelah ini…. #eh mumpung mention, sekalian follow yaaaaa #ihik