Posts Tagged ‘agama

11
Feb
08

posting seorang sahabat…

quoted from an email wrote by Hermansjah Haryono:

“Semuanya berawal saat saya sedang bertukar pikiran dengan teman dekat saya. Ia mengatakan Agama dan ilmu pengetahuan tidak dapat disatukan! Mendengar itu saya merasakan hal yang janggal dengan logika saya. Ada yang gak klik gitu loh. Saya coba pikir dulu, baru saya menjawab. Inilah conversationya….”

Mungkin yang harus dipilah-pilah adalah apakah ilmu pengetahuan atau logika. Gak semua logika sesuai ilmu pengetahuan dan gak semua ilmu pengetahuan gak sesuai dengan logika. Misalnya aja, semua benda didinginkan pasti akan menyusut namun tidak begitu dengan air. Pada derajat tertentu ketika didinginkan, air akan semakin memuai dan kepadatannya semakin meningkat. Atau mungkin pengetahuan umum yang mengatakan pencipta telepon itu adalah A.G Bell? ternyata dibuktikan bahwa Bell mencuri ‘konsep’ dari teman sejawatnya dan mendaftarkannya di badan paten. (hal ini baru dibuktikan baru2 ini). Atau mungkin Socrates yang dianggap gila dan kafir karena mengatakan bumi itu bulat yang baru diakui kebenarannya setelah 100 tahun teorinya dipaparkan?

Setuju bahwa Ilmu Pengetahuan dan Agama seharusnya sejalan, tapi belum tentu dengan logika. Karena logika manusia dibatasi oleh keterbatasan kelima (atau mungkin keenam) indra. Percaya Agama membutuhkan iman, keimanan bersifat dogmatis dan belum (saya gunakan kata belum, karena mungkin di masa depan ada konsep logika yang dapat menerima konsep keimanan) dapat diterima logika.

Kita beriman ketidakberdayaan, karena ada kekuatan yang lebih dahsyat. Setidaknya itulah dasar keimanan.

[deleted]

“Kemudian selanjutnya masuk hipotesis saya. Kalo begitu harusnya Anda percaya dengan ilmu pengetahuan. Karena ilmu pengetahuan itu adalah salah satu cipataan Tuhan yang dilahirkan dari akal pikiran manusia melalui indera-indera yang dimiliki manusia. Otak manusia sebagai host nya ilmu pengetahuan aja juga ciptaan Tuhan kan. Sehingga, kalau ada yang gak selaras antara ilmu pengetahuan dan Agama maka harus ada yang salah pada salah satunya.”

Ilmu pengetahuan belum tentu benar karena merupakan hasil pemikiran/percobaan dari mahkluk yang mempunyai keterbatasan. Misalnya; entah sudah berapa banyak teori suatu ilmu yang dikoreksi. Ilmu pengetahuan lahir karena suatu kebudayaan yang akan berkembang sejalan dengan kehidupan manusia. Perkembangan ilmu pengetahuan mengakibatkan perubahan nilai atau cara hidup suatu kaum.

Mungkin yang dapat dibuktikan dengan logika yang melahirkan ilmu pengetahuan justru ajaran-ajaran seperti tertulis pada kitab suci. Misalnya; tahapan-tahapan pembentukan manusia di rahim ibu seperti yang tertulis pada kitab suci Al Quran.

[deleted] 

“Science. Gua lihat para scientist itu setiap saat melakukan pembaharuan dengan gigih. Melakukan experiment, uji coba secara empiris, dan sebagainya. Jika ada yang salah maka didebatkan lalu diperbaiki. Sebuah proses continuous improvement yang solid. Gua lihat upaya2 para scientist itu perlu diacungi jempol. Membuka diri dalam arti kalau benar maka mereka percaya sedangkan kalau salah cepat2lah diperbaiki.

Agama. Apakah ada gerakan pembaharuan agama sehebat scientist di atas? Jika adapun maka akan dilakukan secara diam2. Namun, pada saat hal2 pembaharuan ini dilempar ke umum, maka kaum traditionalistnya cepat2 menghujatnya. Penghianat, pendosa, kafir, dan lain sebagainya. Bagaimana kita bisa bandingkan antara agama dan ilmu pengetahuan dalam konteks ini??”

Untuk bagian ini, gue SANGAT setuju dan mempunyai keprihatinan yang sama. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang benar-benar tahu apa yang sesungguhnya terjadi dan apa yang sesungguhnya dilakukan oleh para Rasul/Nabi atau mungkin seperti apa sesungguhnya tata cara kehidupan mereka.

Semua dilakukan karena penafsiran, dimana penafsiran dapat bersifat subjective dan rentan dirasuki oleh kepentingan-kepentingan lain.

Seorang teman pernah bertanya; “jadi elo Suni ato Syi’ah” (kebetulan 2 aliran ini yang cukup kental di Indonesia ketika gw kuliah). Jujur; gw bingung. Karena tidak ada satupun orang yang gw tanya bisa bersikap objektif. Mereka selalu berpegang teguh dengan kebenaran kaumnya. Hal seperti ini yang dikhawatirkan dapat menjerumuskan orang2 awam ke jurang kesesatan seperti yang marak terjadi.

Allah menjamin originalitas Al Quran dan (telah terbukti) di setiap jaman pasti ada manusia yang hafal isi dari Al Quran huruf per huruf, tanda baca, dan tajwid-nya. Sayangnya, penafsiran yang terkadang sangat subjective.

Tatanan budaya kita adalah budaya yang ‘manut’ / ‘nerimo’. Orang muda tidak boleh melawan orang tua dalam hal apapun. Melawan dalam arti kurang ajar dalam bersikap gw setuju, menghormati mereka dalam kehidupan sehari-hari setuju. Tapi kalau melawan juga diartikan mempertanyakan atau kritis terhadap apa yang diajarkan ‘orang2′ tua atau yang dituakan, bagian ini yang kurang dapat disetujui.

“Kalau kita baca sejarah agama, baik Islam, Kristen, Yahudi, dan lainnya, yang asalnya merupakan wahyu Tuhan yang dibawa oleh seseorang Rasul kemudian dikembangkan oleh pengikut2nya yang merupakan manusia juga. Maka tentunya agama akan rentan dengan tujuan2 pribadi, tujuan2 ekonomi, politik, dan lain lain. Let assume that there is no such political or economical motives inside the religion along hundred years. Apakah konteks penterjemahan surat-surat atau ayat-ayat itu sebaiknya dilakukan kembali, mengingat kemampuan manusia jaman dulu dan jaman sekarang sudah jauh berbeda. Tapi sayang ini tidak terjadi. Karena setiap kali ada upaya ini, maka mereka langsung dihujat.”

Bagian ini juga saya setuju. :) Penafsiran harus selalu diperbaharui mengingat konteks jaman dimana ajaran akan diberikan. Dapat dibayangkan kalau para wali tidak memasukkan nilai-nilai Islam dan menyebarkannya melalui budaya asli Indonesia, sudah pasti Indonesia bukan menjadi negara mayoritas Islam. Hal tersebut baik untuk konteks penyebaran, namun apakah nilai budaya tersebut menjadi suatu kewajiban agama? kan tidak juga. Misalnya saja, di ajaran agama; tidak ada kewajiban untuk memperingati 100 hari kematian seseorang, ini adalah nilai budaya yang dimasuki unsur keagamaaan. Karena mempunyai nilai yang baik, jadi tak ada salahnya untuk dilanjutkan, asal perlu diingat bahwa peringatan tersebut bukan merupakan bagian dari kewajiban keagamaan.

Satu buah contoh lagi; apakah cukup bijaksana jika dengan alasan mematuhi ajaran Al Quran, semua wanita yang tidak memakai jilbab diberi label ‘pendosa’? apakah mereka tidak semakin anti-pati dan takut terhadap ajaran agama?

sedikit berbagi; dulu gw pernah terlibat di suatu gerakan ‘pesantren gaul’ bikinan alumni2 Al Azhar. Strategi mereka simple; mereka memberikan kesan ‘fun’ pada suatu pembelajaran agama sebagai langkah awal memperkenalkan nilai-nilai keagamaan kepada anak muda. Semua nilai keagamaan dimasukkan dengan cara yang santai, fun, dan yang terpenting sesuai dengan jaman. Semua peserta merasa senang, bahkan bisa dibilang cukup banyak anak-anak gaul di jakarta yang jadi sadar Allah dan mulai memikirkan agama.

Agama seharusnya diajarkan bertahap dan dengan memasukkan nilai logis dan bukan menakut-nakuti. Semakin ditakut-takuti, orang akan semakin tidak takut, atau mungkin menjadi beriman karena takut neraka, bukan karena kesadaran akan nilai-nilai keesaan Allah.

“Inilah permasalahannya. Kebanyakan kaum beragama itu merasa benar sehingga menutup diri. Dampaknya jelas lah kalau para kaum scientist itu lebih senang menjadi kaum agnostic dimana ia percaya dengan adanya Tuhan tapi dia tidak percaya dengan satupun Agama. Apakah ini salah? Gak tahu lah, urusan Tuhan. Tapi di mata mereka, agama itu saling perang, saling tuding, dan lain-lainya. Jika menuruti conscience (kata hati), maka saya lebih condong setuju kepada kaum scientist menjadi agnostic.

Tapi kita jangan kalah dulu lah. Jangan menghujat agama adalah salah. Kita sebaiknya lebih percaya bahwa tidak semua kaum beragama itu salah, tapi selama kita berpegang kepada akal pikiran dan kata hati, maka kita bisa kembali ke ajaran agama murni yang seharusnya aligned dengan ilmu pengetahuan. Period.”

[deleted]

Naaaaaaah…pada bagian ini, gw harus bilang tidak setuju :) Dibalik aja; kita berangkat dengan anggapan agama itu benar dan kita kaji dengan pikiran terbuka. Apakah ada kontradiktif dengan ilmu pengetahuan?? Jika iya, kita kaji lagi lebih mendalam. Apakah kajian kita berlawanan dengan nurani?

Pertama, seharusnya dipilah dulu, mana ajaran agama yang lahir dari suatu budaya yang turun temurun, dan mana ajaran agama yang murni sesuai dengan ajaran agama tersebut. Jika kita adalah mahkluk yang percaya Allah, maka kita harus percaya (sebagai muslim) pada janji Allah bahwa Al Quran akan selalu terpelihara. Jadi kita tetap kembali pada Al Quran. Bagaimana dengan Sunnah? well, sunnah itu agak sulit di buktikan kebenarannya. karena merupakan ajaran turun temurun yang mungkin bisa dikurangi atau ditambahkan (mungkin bisa disetarakan dengan gossip), kalau gw, selama sunnah tidak bertentangan dengan hati nurani dan Al Quran gw yaaaaah gw coba lakukan. Misalnya; kata orang, sunnah hukumnya untuk makan dengan kaki satu naik (mungkin ada yang pernah mendengar); pertanyaanya, konteksnya gimana dulu nich. Karena jika kita makan di depan orang tua atau di tempat formal dengan kaki satu naik, apakah sopan? apakah dengan mengandalkan nilai keagamaan kita melupakan nilai sosial (padahal Allah memerintahkan kita untuk memelihara juga hubungan dengan sesama manusia).

Sungguh saya kadang geli melihat perdebatan tentang suatu yang tidak begitu hakiki namun sangat dimotori oleh kepentingan kredibilitas. Karena ’salah’ dianggap penghancur kredibilitas; padahal orang yang mau dan mampu mengakui kesalahan adalah orang yang sangat bijaksana.




rangkum.com news aggregator

rangkum.com

Blog Stats

  • 3,735 hits

 

November 2009
M T W T F S S
« May    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

interested in